Waktu Rilis Android G1 Tertunda di Indonesia

Smartphone andalan terbaru Advan, G1, mengalami penundaan waktu rilis. Dijadwalkan hadir pada bulan September ini, perangkat berbasis Android itu dijanjikan baru akan dilepas ke pasar pada bulan Oktober mendatang.

Di balik penundaan ini, pihak Advan beralasan ingin lebih menyempurnakan produk agar memiliki spesifikasi dan desain yang mampu memikat banyak orang. Selain itu, Oktober dipilih untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda.

Kepastian tersebut dilontarkan Tjandra Lianto selaku Direktur Pemasaran Advan, Andy Gusena sebagai Direktur Brand Advan, dan Hasnul Suhaimi yang mengepalai proyek Advan G1, di Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Persiapan matang

Advan memang tampak sangat serius dalam mengembangkan G1 ini. Hal tersebut terbukti dari proses persiapan perangkat ini.

Advan mengambil pendekatan berbeda sewaktu mempersiapkan seri ponsel kelas menengah yang akan dijual dengan harga sekitar Rp 2 juta lebih ini. Salah satunya dengan melibatkan orang luar perusahaan yakni Hasnul yang sebelumnya dikenal di dunia telekomunikasi sebagai Presiden Direktur PT XL Axiata tahun 2006-2015.

Hasnul terlibat dalam survei untuk mendapatkan masukan dari responden dari berbagai daerah di Indonesia akan sosok ponsel yang ideal. Spesifikasi itulah yang kemudian dipenuhi dalam bentuk G1.

“Ada beberapa hal yang membuat saya kurang puas akan G1 sehingga seolah tidak memiliki keunggulan dibanding ponsel lain. Keputusannya adalah menunda peluncuran daripada konsumen kecewa,” kata Hasnul.

Perubahan spesifikasi

Dalam kesempatan tersebut, diperlihatkan purwarupa dari G1 dengan desain yang hampir pasti akan dipakai pada produk akhir. Hanya spesifikasi kemungkinan bakal mengalami perubahan.

Sebelumnya, G1 akan memakai kamera dengan resolusi 8 megapiksel. Kemudian, berdasarkan hasil survei, Hasnul menyarankan untuk mendongkrak resolusi kamera G1 menjadi 13 megapiksel.

Kapasitas RAM juga kabarnya ditingkatkan menjadi 3 GB, meski kemungkinan penyesuaian harga diharapkan tidak sampai melampaui angka Rp 3 juta.

iPhone dengan harga terjangkau

Dalam kesempatan sebelumnya, Advan tidak canggung untuk menyebut G1 sebagai ponsel iPhone yang dibuat dengan harga terjangkau.

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya berlebihan karena desain produk ini jelas mengingatkan pada ponsel pintar buatan Apple tersebut dengan garis antena serta pojok tanpa sudut. Sensor yang dipergunakan G1 pun memakai Largan yang juga dipakai oleh iPhone.

Dengan permukaan berbalut bahan metal, permukaan belakang G1 dibuat melengkung sehingga nyaman saat digenggam.

Sisi samping ponsel ini tidak memiliki warna atau dibiarkan berwarna perak, dengan tombol pengatur suara di sisi kanan, port audio di atas dan micro USB untuk daya, dan data di bagian bawah.

Lensa kamera tampil meyakinkan di bagian belakang dengan posisi di tengah sementara sensor sidik jari bertengger di bawahnya. Terdapat bingkai bundar berbahan besi dan berwarna perak mengelilingi lensa kamera.

Dari sisi perangkat lunak, kamera yang dimiliki G1 cukup kaya fitur. Pengguna mendapatkan berbagai layanan yang dimiliki banyak aplikasi dalam satu tempat misalnya filter, kolase, efek membuat cantik, dan sebagainya. Sayangnya meski ada fitur manual, tidak banyak parameter yang bisa diulik.

Pihak Advan menuturkan bahwa mereka akan menempatkan ponsel ini dengan keunggulan di sisi kamera dan audio.

Saat diluncurkan bulan Oktober nanti diharapkan calon pembeli yang mengharapkan ponsel yang memiliki kamera yang baik serta audio yang mumpuni sudah punya gambaran akan membeli tipe ponsel yang mana.

XL Beri Diskon Ponsel bagi Pelanggan, Ini Caranya

XL meluncurkan program Shopping Points untuk pelanggan kartu pra-bayar. Pelanggan bakal mendapatkan diskon hingga Rp 1 juta untuk pembelian gadget di toko ponsel yang bekerja sama dengan XL.

“Ini merupakan lanjutan program Shopping Points yang kami luncurkan perdana awal Mei kemarin. Melalui program ini pelanggan bisa mendapatkan ponsel 4G LTE dengan potongan harga yang besar,” ujar Chief of Prepaid Business Officer XL, David Arcelus Oses dalam peluncuran Shopping Points untuk Prabayar XL, di Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Total ada 12 perusahaan ritel yang diajak bekerja sama, yaitu Erafone, Pazia, Oke Shop, Global Teleshop, Sentra Ponsel, Point 2000, Selular Shop, serta GaleriGadget. Dengan demikian, Shopping Points dapat ditukar di seluruh gerai ritel milik perusahaan tersebut.

Untuk mengikuti program ini, pelanggan yang belum memiliki kartu prabayar XL cukup datang ke salah satu toko tersebut, membeli ponsel dan mengaktifkan paket Combo Xtra untuk 12 bulan. Biaya berlangganan paket internet tersebut langsung dibayarkan di muka.

Sedangkan pelanggan yang sudah memiliki nomor XL, cukup mengaktifkan Combo Xtra dan akan mendapatkan Shopping Points yang berfungsi sebagai diskon pembelian gadget baru itu. Pelanggan bisa mengecek jumlah poin yang terkumpul melalui gerai XL Xplor.

Sebelumnya, XL meluncurkan program Shopping Points untuk pelanggan pasca-bayar. Melalui jumlah poin yang dikumpulkan dengan membeli paket internet Prio Points, pelanggan bisa mendapatkan diskon pembelian gadget hingga Rp 6 juta.

Paket internet Prio Points dibanderol mulai dari Rp 150 ribu, dengan bonus kuota 2,5 GB, 50 menit telepon, serta 50 SMS ke semua operator setiap bulan.

Sedangkan paket internet Combo Xtra, untuk pengguna pra-bayar, tersedia dalam tiga pilihan paket bulanan. Pertama, paket “XL” 26 GB seharga Rp 129.000; Kedua, paket “2XL” 40 GB seharga Rp 179.00; Ketiga, paket “3XL” 56 GB seharga Rp 239.000.

Google Batalkan Smartphone “Bongkar Pasang” Project Ara?

Ada kabar buruk bagi yang sudah lama menantikan smartphone modular bikinan Google, Project Ara. Kabar yang santer beredar di internet menyebutkan, Google sudah atau setidaknya sedang mempertimbangkan untuk menghentikan proyek ambisius tersebut.

Menurut sumber dari internal Google yang menolak disebutkan namanya, Project Ara akan dihentikan karena adanya perubahan strategi perusahaan. Raksasa internet itu dikatakan sedang berusaha mengurangi proyek yang terkait dengan pembuatan dan pengembangan hardware, seperti Project Ara ini.

Akan tetapi, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Reuters, Jumat (2/9/2016), Project Ara tampaknya belum akan benar-benar dihentikan.

Sang sumber menyebutkan, Google bisa saja mencari rekanan produsen hardware yang mau mewujudkan Project Ara. Raksasa mesin pencari itu tinggal membuat perjanjian lisensi saja, mirip strategi smartphone Nexus.

Dalam strategi tersebut, Google menunjuk beberapa vendor smartphone ternama untuk mengembangkan perangkat berbasis Android, Nexus. Sang rekanan tidak bekerja sendiri, melainkan bekerja bersama Google untuk mewujudkan Nexus tersebut.

Project Ara sendiri awalnya diproyeksikan untuk dirilis pada musim gugur 2017 mendatang.
Publik pun sangat antusias dan menunggu-nunggu terwujudnya smartphone “bongkar pasang” tersebut.

Project Ara merupakan upaya membuat smartphone yang komponennya bisa dilepas pasang. Misalnya, pengguna bisa mengganti kamera, baterai, speaker, hingga layar sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Google sendiri belum angkat bicara soal rumor penghentian Project Ara ini.

Inikah Nama Baru “Smartphone” Google?

HTC diketahui sedang mengembangkan duo ponsel Google Nexus berikutnya yang berkodenama “Marlin” dan “Sailfish”.

Ketika sudah resmi nanti, keduanya disinyalir tak akan mengemban nama “Nexus”, melainkan nama baru berupa “Pixel” dan “Pixel XL”.

Menurut keterangan yang dirangkum KompasTekno dari Android Police, Jumat (2/8/2016), nama Pixel mengacu pada perangkat Sailfish yang memiliki bentang layar 5 inci.

Sementara, Pixel XL tak lain merupakan Sailfish yang ukuran layarnya 5,5 inci. Nama “Pixel” selama ini dikenal sebagai brand premium Google yang hanya diberikan untuk perangkat kelas atas.

Kalau informasi di atas memang benar, boleh jadi brand “Nexus” untuk ponsel Google memang akan ditiadakan, seperti yang sempat diberitakan sebelumnya.

Baca: Google Bakal Pensiunkan Android Nexus?

Bocoran yang beredar selama ini menyebutkan bahwa Pixel diperkuat prosesor Snapdragon 820, RAM 4 GB, OS Android 7.0, baterai 2.770 mAh, kamera 13 megapiksel, dan 8 megapiksel, serta layar 5 inci (2.560 x 1.440).

Pixel XL memiliki spesifikasi yang serupa dengan Pixel kecuali di layarnya yang lebih besar dan baterai berkapasitas lebih tinggi (3.450 mAh).

Banderol harga Pixel versi 32 GB dikabarkan bakal mencapai 449 dollar AS (Rp 5,9 juta), sementara Pixel XL 32 GB sebesar 599 dollar AS (Rp 7,9 juta).

Samsung Resmi “Recall” Galaxy Note 7

Samsung resmi menarik peredaraan (recall) smartphone Galaxy Note 7 yang dirilis awal Agustus lalu. Langkah ini diambil Samsung setelah banyaknya laporan kasus baterai yang meledak atau terbakar di beberapa negara.

Dalam sebuah pernyataan tertulis resmi, Jumat (2/8/2016), juru bicara Samsung mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen membuat produk dengan kualitas terbaik dan menanggapi semua insiden secara serius.

“Terkait laporan tentang kasus yang menimpa Galaxy Note 7 yang terjadi baru-baru ini, kami telah melakukan investigasi dan menemukan kendala dalam baterai,” ujar juru bicara itu.

Menurut Samsung, hingga kini (1 September 2016) sudah ada 35 kasus yang dilaporkan secara global dan Samsung melakukan inspeksi menyeluruh dengan para penyuplainya untuk mengidentifikasi, apakah ada baterai-baterai lain yang terkena imbasnya yang beredar di pasar.

Untuk tujuan itulah, maka Samsung memutuskan untuk menghentikan penjualan Galaxy Note 7.

“Mengingat keamanan konsumen adalah prioritas utama bagi Samsung, maka kami harus menghentikan penjualan Galaxy Note 7,” ujar juru bicara tersebut.

Bagi konsumen yang telah memiliki Galaxy Note 7, Samsung akan menggantinya dengan unit yang baru dalam beberapa minggu ke depan.

Masalah baterai

Sementara dikutip KompasTekno dari kantor berita Korea Selatan, Yohnap, masalah baterai diperkirakan hanya menimpa 0,1 persen dari keseluruhan unit Galaxy Note 7 yang terjual, tapi perusahaan asal Negeri Ginseng ini tak mau ambil risiko.

“Masalahnya bisa diperbaiki dengan mengganti baterai perangkat, tapi kami akan mengajukan solusi untuk para konsumen,” ujar seorang pejabat Samsung yang tidak mau disebut namanya.

Samsung kini juga sedang berdiskusi dengan operator seluler rekanannya, seperti Verizon di AS, terkait persoalan tersebut. Pengapalan Galaxy Note 7 ke operator-operator di Korea Selatan dilaporkan telah terhenti.

Sementara itu, Korea Herald melaporkan bahwa harga saham Samsung SDI, pabrikan komponen baterai untuk Galaxy Note 7, mengalami penurunan sebesar 6,06 persen pada Kamis (1/8/2016) kemarin, dibanding hari sebelumnya.

Penurunan itu diduga terkait dengan permasalahan baterai meledak atau terbakar yang mendera Galaxy Note 7.

Harga saham Samsung Electronics dan Samsung Electro-Mechanics juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,4 persen dan 2,26 persen.

Samsung SDI memproduksi sel baterai untuk Galaxy Note 7, sementara produksi kemasannya diserahkan ke pihak lain, seperti ITM Semiconductor. Ponsel Galaxy Note 7 yang meledak sejauh ini dilaporkan menimpa unit baterai buatan ITM.

Permasalahan di atas dikhawatirkan bisa mempengaruhi kinerja penjualan Galaxy Note 7 yang laku keras dengan animo tinggi dari konsumen. Di Korea Selatan saja, sebanyak 400.000 unit telah terjual semenjak peluncurannya pada 19 Agustus lalu.

Samsung Indonesia beri kompensansi

Sebelumnya, Samsung telah mengumumkan penundaan pengiriman Galaxy Note 7 di Indonesia. Galaxy Note 7 awalnya dipatok pada 1 September sudah bisa diterima para pemesan awal di Indonesia. Kemudian diumumkan tertunda hingga 17 September.

Atas keterlambatan ini, Samsung siap memberikan kompensasi. (Baca: Galaxy Note 7 Tertunda di Indonesia, Samsung Siapkan Kompensasi)

Terhadap perkembangan terakhir yaitu recall produk, Samsung Indonesia belum memberikan keterangan resmi apakah akan tetap terus melanjutkan pengiriman ke pemesan awal atau menghentikan penjualan.

Mantan Petinggi XL Jadi Bos Line Indonesia

Setelah beroperasi sekitar tiga tahun di Tanah Air, Line Indonesia akhirnya menunjuk Managing Director untuk pertama kalinya. Posisi tersebut diisi oleh Ongki Kurniawan terhitung sejak 1 Juni 2016 lalu.

Sebelumnya, Ongki lebih dikenal di industri telekomunikasi. Ia bekerja di XL Axiata selama tujuh tahun dan terakhir menjabat sebagai Chief Digital Services Officer.

“Bisnis digital adalah masa depan dan potensinya sangat besar di Indonesia,” kata Ongki dalam perkenalan resminya sebagai Managing Director Line Indonesia ke awak media, Jumat (2/9/2016), di Jakarta.

Penunjukan Managing Director bagi Indonesia menunjukkan keseriusan Line dalam menggarap potensi pasar di Tanah Air.

Di ajang Line Conference Tokyo 2016 yang diadakan pada Maret 2016 lalu, CEO and Director Line Corporation Representative, Takeshi Idezawa menegaskan arti penting Indonesia bagi Line.

Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami pertumbuhan pengguna aktif bulanan tertinggi.

Menurut data yang disampaikan Line, Maret lalu pengguna terdaftar aplikasi Line di Indonesia mencapai 60 juta akun.

“Sepanjang tahun 2014 hingga 2016 pertumbuhan pengguna aktif bulanan di Indonesia lebih dari 200 persen,” ujar Idezawa.

Go-Jek Uji Coba Layanan Antar Obat

Go-Jek berencana kembali merilis sebuah fitur baru. Setelah jasa pengiriman barang dan makanan, kini layanan pesan transportasi online itu akan menghadirkan fitur pembelian obat.

Fitur baru bernama Go-Med ini berfungsi untuk pemesanan obat di apotek dan mengantarnya ke pemesan oleh sopir Go-Jek.

Pihak Go-Jek bekerja sama dengan Apotik Antar untuk menghadirkan fitur Go-Med ini. Pihak Apotik Antar sendiri mengklaim telah bekerja sama dengan lebih dari 1.000 apotek yang tersebar di sekitar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Ada beberapa kategori obat yang bisa dipesan melalui layanan ini. Di antaranya kategori bebas tanpa resep dokter, bebas terbatas (dengan atau tanpa resep dokter), khusus resep dokter, alat-alat kesehatan, dan obat-obatan consumer, seperti Dettol atau Tolak Angin.

Pantauan KompasTekno di aplikasi Go-Jek, Jumat (2/9/2016), ada sebuah fitur di Go-Med yang mengizinkan pengguna mengunggah foto. Ini berguna bila ingin menebus resep dokter.
Jika tidak ingin menebus semua resep, nantinya pengguna bisa menyertakan memo.

Saat ini, Go-Med baru hadir dalam versi beta atau masih dalam tahap uji coba. Meski begitu, sudah ada beberapa pengguna yang kebagian fitur tersebut sebagai bagian uji coba.

KompasTekno menjajalnya menggunakan aplikasi GoJek di iOS. Saat sudah dirilis nanti, fitur ini dikatakan akan hadir di Android dan iOS.

Sayangnya, belum diketahui kapan tepatnya Go-Med akan diluncurkan ke seluruh pengguna. Pihak Go-Jek berjanji untuk segera menghadirkannya.